Jumat, 14 Desember 2012

Pertemuan Anggota Komite SDN Karang 2012

              Pertemuan Anggota Komite Sekolah Tahun Pelajaran 2012/2013

Pertemuan dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Desember 2012 dihadiri oleh semua anggota komite sekolah sejumlah kurang lebih 150 orang beserta tamu undangan.
 Adapun acara pertemuan komite sekolah SDN Karang tahun 2012/2013 adalahsbb :
1. Pembukaan
2. Lagu Indonesia Raya
3. Pra kata dari Kepala Sekolah
4. Laporan Keuangan BOS
5. Sambutan-sambutan :
    a. Ketua Komite
    b. Kepala Desa Karang
    c. Ka.UPTD TK/SD Kec.Bogorejo
6. Lain-lain
    Reorganisasi Kepengurusan Komite Sekolah
7. Penutup



Pertemuan dimulai tepat pukul 08.30 dengan diawali lagu Indonesia Raya

Kamis, 13 Desember 2012

Andragogi



Andragogi
ANDRAGOGI
(Sebuah Konsep Teoritik)
A. Pengertian
Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.
B. Andragogi dan Pedagogi
Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.
Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :
1. Citra Diri
Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.
2. Pengalaman
Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar
Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.
4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar
Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.
C. Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi
Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :
1. Menciptakan iklim untuk belajar
2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
4. Merumuskan tujuan belajar
5. Merancang kegiatan belajar
6. Melaksanakan kegiatan belajar
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.
Andragogi dapat disimpulkan sebagai :
1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.
D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa
1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.
E. Karakteristik Warga Belajar Dewasa
1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.
3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui
4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya
5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal
10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin
11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru.
F. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa
Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :
1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang
10. Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar”
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif fan pisitif.
artikel di atas diambil dari pakguruonline hasil karanganSupriadi,M.Pd.

Selasa, 17 Juli 2012

UKG On Line

 Untuk teman-teman yang ingin sedikit mengetahui cara pengoperasian aplikasi UKG online dapat membuka web di bawah ini!
bmps.guru-indonesia.net/artikel_detail-24386.html

Selasa, 19 Juni 2012

UJI KOMPETENSI GURU YANG SUDAH BERSERTIFIKAT SECARA ON LINE

JAKARTA, KOMPAS.com -- Uji kompetensi bagi guru bersertifikat wajib diikuti semua guru yang sudah mengantungi sertifikat sebagai pendidik profesional pada akhir Juli. Pelaksanaan uji kompetensi guru bersertifikat ini untuk dasar pembinaan dan penilaian kinerja, tanpa ada konsekuensinya dengan pembayaran tunjangan profesi pendidik yang sudah mereka terima.
"Penolakan para guru karena belum paham. Tidak ada kaitannya dengan risiko finansial seperti penghentian tunjangan pendidikan profesi. Untuk melakukan itu, perlu dicari payung hukumnya," kata Syawal Gultom, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidik dan Peningkatan Mutu Pendidikan, Kemendikbud, Jumat (15/6/2012) di Jakarta.
Menurut Syawal, guru-guru yang menolak uji kompetensi bagi guru bersertifikat, berarti menolak penilaian kinerja yang mulai diberlakukan tahun 2013. Hasil uji kompetensi guru, termasuk guru bersertifikat, sebagai awal untuk penilaian kinerja dan pembinaan guru yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap guru.
Seperti diberitakan, sejumlah organisasi guru menolak rencana Kemendikbud menggelar uji kompetensi pada 1.020.000 guru bersertifikat. Mereka lulus sertifikasi dalam periode 2007-2011 lewat penilaian portofolio serta pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG).
Syawal mengatakan, meskipun guru sudah dinyatakan profesional, kompetensinya tetap perlu diuji dalam waktu tertentu. Uji kompetensi bagi guru yang akan ikut sertifikasi dan yang sudah bersertifikat dilakukan untuk kepentingan pembinaan guru yang lebih baik.
Uji kompetensi guru bersertifikat akan dilaksanakan secara online serentak di seluruh Indonesia. Para guru yang tidak memenuhi standar minimum akan dibina dan dilatih pada tahun 2013 dengan sistem online.
Pada uji kompetensi awal (UKA) bagi calon guru yang akan disertifikasi, didapati kompetensi guru secara nasional rendah, yakni 42,25. Di jenjang TK, kompetensi guru 58,87, SD (36,86), SMP (45,15), SMA (51,35), SMK (49,07), dan pengawas (32,58).

Selasa, 22 Mei 2012

Contoh Soal Pedagogik


UJI KOMPETENSI  PEDAGOGIK
PAKET IA

Indikator
Mendeskripsikan karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI  berkaitan dengan aspek fisik.
Deskriptor      
Menjelaskan karakteristik perkembangan  aspek fisik peserta didik SD/MI.
Butir Soal  1
           


Pernyataan di bawah ini merupakan  karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI ditinjau dari aspek fisik, kecuali  ....
a.       menunjukkan variasi yang besar pada tinggi dan berat badan
b.      memiliki keterampilan fisik untuk memainkan permainan
c.       penambahan-penambahan dalam kemampuan motorik halus
d.      memiliki kemampuan dalam mengangkat beban yang berat

Kunci Jawaban
D
Penjelasan      
Karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI ditinjau dari aspek fisik antara lain:   mulai kehilangan gigi bayi, namun tumbuh gigi baru, memiliki  dorongan dan energi  secara  eksplosif, mengulang kembali keterampilan-keterampilan secara tuntas, dan menyenangi olahraga secara kelompok. Jadi memiliki kemampuan dalam mengangkat beban yang berat, bukan merupakan karakteristik perkembangan aspek fisik anak usia SD. 
Reference       
Shickedanz, Yudith A, Shickedanz, David A. and Forsyth, Peggy D, Toward Understanding Children,  (19982) Canada: Little ,Brown & Company.

Indikator
Mendeskripsikan karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI  berkaitan dengan aspek  intelektual.
Deskriptor      
Menjelaskan karakteristik perkembangan  aspek  intelektual peserta didik SD/MI.
Butir Soal 2    
Kreativitas merupakan salah satu karakteristik perkembangan intelektual siswa SD, yang artinya kemampuan untuk ….
a.       memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari yang sering dilakukan dan menghasilkan kepuasan kepada dirinya sendiri dan orang lain
b.      penalaran yang menggunakan logika-logika yang dapat diterima oleh semua orang  dan menghasilkan penyelesaian persoalan untuk mengambil keputusan
c.       berfikir tentang sesuatu dengan suatu cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan
d.      mengembangkan ide-ide secara cerdas dalam rangka penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan masa sekarang maupun masa yang akan datang 
Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Kreativitas merupakan salah satu karakteristik perkembangan aspek intelektual siswa SD. Menurut Hurlock, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir tentang sesuatu dengan suatu cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan.
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mendeskripsikan  karakteristik perkembangan  peserta   didik SD/MI berkaitan  dengan aspek  sosial
Deskriptor      
Menjelaskan karakteristik perkembangan  aspek sosial peserta didik SD/MI.
Butir Soal 3
Pernyataan di bawah ini yang merupakan  karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI ditinjau dari aspek sosial adalah ....
a.       mulai menyukai  teman  sebaya  sesama jenis
b.      berperan serta dalam permainan logika
c.       menyukai  teman sebaya  lawan jenis
d.      dapat  bekerja  dalam durasi waktu yang lama

Kunci Jawaban
A
Penjelasan      
Karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI ditinjau dari aspek sosial antara lain:   mulai dapat bekerja sama dalam kelompok, memiliki keasyikan sendiri, dapat beradu argumentasi, dan menyukai teman sebaya sesama jenis. Jadi, mulai menyukai  teman  sebaya  sesama jenis, berperan serta dalam permainan logika, dan menyukai  teman sebaya  lawan jenis bukan merupakan karakteristik perkembangan peserta didik usia SD.

Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mendeskripsikan  karakteristik perkembangan  peserta   didik SD/MI berkaitan  dengan aspek  emosional.
Deskriptor      
Menjelaskan karakteristik perkembangan  aspek emosional  peserta didik SD/MI.
Butir Soal 4    
Pernyataan di bawah ini merupakan  karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI ditinjau dari aspek emosional, kecuali  ....
a.       kesulitan memulai sesuatu, tetapi jika berhasil akan bertahan sampai akhir
b.      menampakkan marah apabila mengalami kesulitan di sekolah
c.       mulai muncul perasaan simpati kepada orang yang lebih dewasa
d.      memiliki rasa humor yang diekspresikan dalam lelucon praktis

Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Menurut Hurlock, karakteristik perkembangan emosional anak usia SD antara lain: kesulitan memulai sesuatu tetapi jika berhasil akan bertahan sampai akhir, menampakkan marah apabila mengalami kesulitan di sekolah, memiliki rasa humor yang diekspresikan dalam lelucon praktis, dan memiliki rasa sensitif dan mudah tersinggung dalam intensitas yang ringan. Jadi, mulai muncul perasaan simpati kepada orang yang lebih dewasa bukan merupakan  karakteristik perkembangan emosional anak usia SD
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mendeskripsikan karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI  berkaitan  dengan aspek moral.
Deskriptor      
Menjelaskan karakteristik perkembangan aspek moral peserta didik SD/MI.
Butir Soal 5    
Perkembangan perilaku moral dan perkembangan konsep moral merupakan fase-fase perkembangan moral yang harus dicapai seorang anak. Pada fase perkembangan perilaku moral, seorang anak belajar melalui cara-cara berikut, kecuali ….
a.       coba-ralat (trial and error)
b.      pendidikan langsung,
c.       identifikasi
d.      observasi
Kunci Jawaban
D
Penjelasan      
Menurut Hurlock, perkembangan moral anak terdiri atas dua fase, yakni: fase pertama, perkembangan prilaku moral dan fase kedua, perkembangan konsep moral.  Metode-metode yang digunakan agar anak mengalami fase perkembangan perilaku moral terdiri atas coba-ralat (trial and error), pendidikan langsung, dan identifikasi.
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mendeskripsikan  karakteristik perkembangan peserta didik SD/MI berkaitan dengan latar belakang sosial budaya.  
Deskriptor      

Menjelaskan  karakteristik perkembangan  berkaitan dengan latar belakang sosial peserta didik SD/MI.
Butir Soal 6    
Pada anak usia sekolah dasar  sering  disebut  ‘usia berkelompok’. Pernyataan tersebut menunjukkan  karakteristik perkembangan anak dalam aspek ….
a.       sosial
b.      moral
c.       intelektual
d.      emosional
Kunci Jawaban
A
Penjelasan      
Hurlock, menyatakan bahwa karakteristik perkembangan aspek sosial anak usia SD, antara lain: anak berminat dalam kegiatan dengan teman sebaya, ingin menjadi bagian dari kelompok yang mengharapkan untuk dapat menyesuaikan diri dengan nilai dan perilaku, serta minat para anggota kelompok. Berdasarkan karakteristik perkembangan sosial tersebut, usia ini disebut juga ‘usia berkelompok’
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga.

Indikator
Mengidentifikasi bakat dan  minat  peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran  SD/MI.
Deskriptor      
Mengidentifikasi  bakat dan minat peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  PKn  SD/MI.
Butir Soal 7
Pada mata pelajaran PKn, salah satu minat siswa usia sekolah dasar yang dapat teridentifikasi  dalam proses pembelajaran adalah minat terhadap  ….
a.       masalah sosial
b.      bidang olahraga
c.       tubuh manusia
d.      kesehatan manusia
Kunci Jawaban
A
Penjelasan      
Menurut Hurlock minat anak usia SD antara lain terdiri atas: minat terhadap tubuh, minat terhadap kesehatan tubuh, minat terhadap sekolah, minat terhadap status dan simbol, minat terhadap penampilan, minat terhadap masalah sosial, dsb. Dalam pembelajaran mata pelajaran PKn merupakan salah satu cara guru untuk mengidentifikasi minat siswa terhadap masalah sosial. Substansi kajian dalam mata pelajaran PKn sangat berhubungan dengan minat-minat siswa terhadap masalah sosial, bukan bidang olahraga, atau kesehatan/tubuh manusia.   
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mengidentifikasi bakat dan  minat  peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran  SD/MI.
Deskriptor      
Mengidentifikasi  bakat dan minat peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran Matematika SD/MI.
Butir Soal 8
Dalam proses pembelajaraan Matematika, khususnya ketika guru mengaitkan materi pelajaran dengan kebutuhan hidup sehari-hari maka guru  telah berupaya agar pembelajaran memungkinkan bagi guru untuk mengidentifikasi minat siswa terhadap ….
a.       kesehatan
b.      status
c.       penampilan
d.      pekerjaan
Kunci Jawaban
D
Penjelasan      
Menurut Hurlock minat siswa antara lain terdiri atas minat terhadap tubuh, minat terhadap kesehatan, minat terhadap sekolah, minat terhadap status, minat terhadap pekerjaan di masa depan, minat terhadap penampilan, minat terhadap masalah sosial, dsb. Pembelajaran mata pelajaran Matematika, khususnya ketika guru mengaitkan konsep atau kegunaan matematikan dengan kehidupan sehari-hari memungkinkan guru untuk mengidentifikasi minat-minat siswa terhadap pekerjaan di masa datang.
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga
 
Indikator
Mengidentifikasi bakat dan  minat  peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran  SD/MI.
Deskriptor      
Mengidentifikasi  bakat dan minat peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  Bahasa Indonesia SD/MI.
Butir Soal 9
Ketika dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, ketika ada siswa yang sangat antusias memerankan  tokoh  dongeng atau cerita rakyat  yang disukai berarti guru telah menyajikan bahan pelajaran dengan menarik, dengan demikian guru dapat mengindentifikasi minat siswa terhadap ….
a.       penampilan
b.      pekerjaan
c.       sekolah
d.      status
Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Menurut Hurlock minat siswa antara lain terdiri atas minat terhadap tubuh, minat terhadap kesehatan, minat terhadap sekolah, minat terhadap pekerjaan di masa depan, minat terhadap status dan simbol, minat terhadap penampilan, dsb. Dalam proses pembelajaran, Bahasa Indonesia ketika ada siswa yang sangat antusias memerankan  tokoh  dongeng atau cerita rakyat  yang disukai, berarti guru telah menyajikan bahan pelajaran dengan menarik. Dengan demikian, bahan pelajaran yang menarik tersebut dapat mengindentifikasi minat siswa terhadap sekolah. Minat anak terhadap sekolah secara positif cenderung mempengaruhi sikap dan minat anak terhadap sekolah.
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mengidentifikasi bakat dan  minat  peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran  SD/MI.
Deskriptor      
Mengidentifikasi  bakat dan minat peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  IPA SD/MI.
Butir Soal 10
Dalam proses pembelajaran tentang kompetensi dasar: ‘mengidentifikasi  kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat (makanan, air, pakaian, udara, lingkungan sehat)’, guru tampak dapat mengidentifikasi siswa yang selalu bertanya dan mampu membuat laporan tentang apa saja yang diminatinya dengan sangat baik. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa guru dapat mengidentifikasi minat siswa terhadap …
a.       seks
b.      penampilan
c.       kesehatan
d.      pekerjaan
Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Menurut Hurlock minat siswa antara lain terdiri atas minat terhadap tubuh, minat terhadap kesehatan, minat terhadap sekolah, minat terhadap pekerjaan di masa depan, minat terhadap status dan simbol, minat terhadap penampilan, minat siswa terhadap masalah sosial, dsb. Dalam pembelajaran mata pelajaran IPA, khususnya tentang kompetensi: ‘mengidentifikasi  kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat (makanan, air, pakaian, udara, lingkungan sehat)’, ketika ada siswa yang yang selalu bertanya, kemudian mampu membuat laporan tentang apa saja yang diminatinya dengan sangat baik maka guru dapat mengidentifikasi minat siswa terhadap kesehatan.
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga

Indikator
Mengidentifikasi bakat dan  minat  peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran  SD/MI.
Deskriptor      
Mengidentifikasi  bakat dan minat peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  IPS SD/MI.
Butir Soal 11
Minat siswa yang dapat teridentifikasi melalui mata pelajaran IPS adalah ‘minat terhadap lambang status’. Salah satunya adalah ….
a.       nama-nama keluarga
b.      penampilan diri
c.       ikatan kekerabatan
d.      jenis pekerjaan orang tua  
Kunci Jawaban
D
Penjelasan      
Menurut Hurlock minat siswa antara lain terdiri atas minat terhadap tubuh, minat terhadap kesehatan, minat terhadap sekolah, minat terhadap pekerjaan di masa depan, minat terhadap status dan simbol, minat terhadap penampilan, minat terhadap masalah sosial, dsb. Melalui pembelajaran IPS, guru dapat mengidentifikasi minat siswa terhadap jenis pekerjaan urang tua.
Reference       
Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima,  Alihbahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, (1980) Jakarta: Erlangga
 
Indikator
Mengidentifikasi  kemampuan awal  peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  PKn  SD/MI.
Deskriptor      
Menyebutkan penguasaan kompetensi prasyarat peserta didik dalam mata pelajaran PKn.
Butir Soal 12
Dalam proses pembelajaran PKn, guru kelas I SD mengajarkan tentang kompetensi dasar: ‘Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat’, maka kompetensi prasyarat yang harus dimiliki siswa adalah ….
a.       mengenal pentingnya tata tertib di mayarakat
b.      melaksanakan hidup rukun di masyarakat  
c.       mengenal lingkungan rumah dan sekolah
d.      mengikuti tata tertib di rumah dan sekolah
Kunci Jawaban
D,
Penjelasan      
Kompetensi awal adalah penguasaan kemampuan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari  materi/topik/kompetensi tertentu. Jika hal tersebut tidak dilakukan akan menghambat penguasaan materi yang /topik/kompetensi dipelajari. Dalam pembelajaran PKn, khususnya kompetensi dasar: ‘Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat’, maka kompetensi prasyarat yang harus dimiliki siswa adalah mengikuti tata tertib di rumah dan sekoalah.
Reference       


Indikator
Mengidentifikasi  kemampuan awal  peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  Matematika SD/MI.
Deskriptor      
Menyebutkan penguasaan kompetensi prasyarat peserta didik dalam mata pelajaran Matematika SD/MI.
Butir Soal 13
Untuk membelajarkan kompetensi dasar:’Perkalian bilangan’,   kemampuan awal/ prasyarat  yang harus dimiliki siswa adalah kemampuan ….
a.       membagi
b.      menjumlah
c.       mengurang
d.      menghitung
Kunci Jawaban
B, b
Penjelasan      
Kompetensi prasyarat adalah kemampuan awal yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari  materi/topik/kompetensi tertentu. Jika hal tersebut tidak dilakukan akan menghambat penguasaan materi yang /topik/kompetensi dipelajari. Dalam pembelajaran Matematika, khususnya kompetensi dasar: ‘’Perkalian bilangan’,   ’, maka kompetensi prasyarat yang harus dimiliki siswa adalah mengikuti tata tertib di rumah dan sekolah, khususnya kompetensi dasar: ‘’, maka kompetensi prasyarat yang harus dimiliki siswa adalah menjumlahkan bilangan
.
Reference       


Indikator
Mengidentifikasi  kemampuan awal  peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  Bahasa Indonesia SD/MI.
Deskriptor      
Menyebutkan penguasaan kompetensi prasyarat peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia SD/MI.
Butir Soal  14
Untuk membelajarkan kompetensi dasar: ‘mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana, maka kemampuan awal/ prasyarat  yang harus dimiliki siswa adalah kemampuan ….
a.       membuat karangan deskriptif
b.      melengkapi kalimat belum selesai    
c.       menyusun kalimat sederhana
d.      membaca kalimat  sederhana
Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Kompetensi prasyarat adalah kemampuan awal yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari  materi/topik/kompetensi tertentu. Jika hal tersebut tidak dilakukan akan menghambat penguasaan materi yang /topik/kompetensi dipelajari. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia: mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana’,  maka kemampuan awal/prasyarat yang perlu dimiliki siswa adalah menyusun kalimat sederhana.
Reference       

 
Indikator
Mengidentifikasi  kemampuan awal  peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran  IPS SD/MI.
Deskriptor      
Menyebutkan penguasaan kompetensi prasyarat peserta didik dalam mata pelajaran IPS SD/MI.
Butir Soal 15
Kemampuan awal/prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari kompetensi dasar: ‘Mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi negara tetangga’, adalah ….
a.       mendeskripsikan gejala/peristiwa alam yang terjadi di Indonesia
b.      mendeskripsikan gejala/peristiwa alam yang terjadi di Eropa
c.       mendeskripsikan gejala/peristiwa alam yang terjadi di Asia
d.      mendeskripsikan gejala/peristiwa alam yang terjadi di Afrika
Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Kompetensi prasyarat adalah kemampuan awal yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari  materi/topik/kompetensi tertentu. Jika hal tersebut tidak dilakukan akan menghambat penguasaan materi yang /topik/kompetensi dipelajari. Dalam pembelajaran IPS SD: ‘‘Mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi negara tetangga’, maka kemampuan awal/prasyarat yang perlu dimiliki siswa adalah mendeskripsikan gejala/peristiwa alam yang terjadi di Indonesia.  
Reference       


Indikator
Mengidentifikasi  kesulitan belajar peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran Matematika
Deskriptor      
Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik SD/MI dalam mata pelajaran  Matematika
Butir Soal 16
Pemahaman simbol merupakan salah satu kesulitan belajar yang sering muncul pada siswa. Hal tersebut dapat teridentifikasi melalui pengerjaan soal ….
a.       4  + 3  = …..
b.      9  -  6  = …..
c.       8  - … =  ….
d.      5  + 4  =  ….
Kunci Jawaban
c
Penjelasan      
Kesulitan belajar Matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis) . Menurut Lerner dalam Mulyono, karakteristik  kesulitan belajar Matematika meliputi: (1) gangguan dalam hubungan keruangan, (2) abnomalitas persepsi visual, (3) asosiasi visual–motor, (4) perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6) gangguan penghayatan tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8) performance IQ lebih rendah daripada skor Verbal IQ
Kesulitan belajar Matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis) . Menurut Lerner dalam Mulyono, terdapat beberapa kekeliruan umum yang sering dilakukan oleh anak berkesulitan belajar Matematika, yakni kekurangan pemahaman tentang: (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, dan (5) tulisan yang tidak terbaca.
Contoh: kesulitan yang sering muncul pada siswa yang belum memahami simbol = , -, +  akan mendapat kesulitan ketika mengerjakan butir soal  8 - …. = …. atau    + 2 = 8 atau …. -  3  = 5, atau  7  +    =  10           
Reference       
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (1999) Jakarta: Depdikbud dan RinekaCipta

Indikator
Mengidentifikasi  kesulitan belajar peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran Matematika.
Deskriptor      
Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik SD/MI dalam mata pelajaran Matematika.
Butir Soal 17
Berikut ini karakteristik anak berkesulitan belajar Matematika yang sering dialami siswa usia sekolah dasar, kecuali ….
a.       adanya gangguan hubungan keruangan
b.      kesulitan dalam bahasa dan membaca
c.       gangguan mengenal dan memahami simbol
d.      performance IQ lebih tinggi dari skor Verbal IQ
Kunci Jawaban
D
Penjelasan      
Kesulitan belajar Matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis) . Menurut Lerner dalam Mulyono, karakteristik  kesulitan belajar Matematika meliputi: (1) gangguan dalam hubungan keruangan, (2) abnomalitas persepsi visual, (3) asosiasi visual–motor, (4) perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6) gangguan penghayatan tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8) performance IQ lebih rendah daripada skor Verbal IQ     
Reference       
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (1999) Jakarta: Depdikbud dan RinekaCipta
 
Indikator
Mengidentifikasi  kesulitan belajar peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran Matematika.
Deskriptor      
Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik SD/MI dalam mata pelajaran Matematika.
Butir Soal 18
Perhatikan soal-soal di bawah ini.
                75                  68
                27                  13 
              _____   _        _____  +
                58                   71
Jawaban soal di atas menunjukkan salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan oleh anak usia SD yang berkesulitan belajar Matematika dalam hal ….
a.       proses penghitungan  
b.      memahami simbol
c.       nilai tempat  
d.      bahasa dan membaca

Kunci Jawaban
C
Penjelasan      
Kesulitan belajar Matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis) . Menurut Lerner dalam Mulyono, terdapat beberapa kekeliruan umum yang sering dilakukan oleh anak berkesulitan belajar Matematika, yakni kekurangan pemahaman tentang: (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, dan (5) tulisan yang tidak terbaca.
Contoh: siswa yang belum memahami nilai tempat satuan, puluhan, ratusan, dst akan semakin mempersulit jika kepada mereka dihadapkan pada lambang bilangan yang berbasis bukan sepuluh.       
Reference       
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (1999) Jakarta: Depdikbud dan RinekaCipta

Indikator
Mengidentifikasi  kesulitan belajar peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
Deskriptor      
Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik SD/MI dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Butir Soal 19
Berikut ini kesulitan yang dimungkinkan muncul pada siswa SD disebabkan adanya kerusakan-kerusakan pada organ wicara, kecuali  ….
a.       suara
b.      kosakata
c.       artikulasi
d.      kelancaran
Kunci Jawaban
B
Penjelasan      
Bahasa merupakan suatu system komunikasi yang terintegrasi mencakup  bahasa ujaran (ekspresi bahasa dalam bentuk wicara), membaca, dan menulis.  Wicara merupakan bentuk penyampaian bahasa dengan menggunakan organ wicara. Ada tiga komponen wicara, yaitu (1) artikulasi, (2) suara), dan (3) kelancaran. Adanya kerusakan pada organ wicara yang terkait dengan salah satu atau lebih komponen tersebut dapat menimbulkan kesulitan wicara.
Reference       
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (1999) Jakarta: Depdikbud dan RinekaCipta

Indikator
Mengidentifikasi  kesulitan belajar peserta didik usia sekolah dasar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
Deskriptor      
Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik SD/MI dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Butir Soal 20
Salah satu contoh kesulitan belajar bahasa ang termasuk dalam kekurangan kemampuan kognitif adalah ….  
a.       menangkap makna secara penuh 
b.      mengingat kembali kata-kata 
c.       membandingkan informasi yang diterima
d.      merumuskan alternatif pemecahan masalah
Kunci Jawaban
A  
Penjelasan      
Ada enam komponen bahasa, yaitu (1) fonem, (2) morfem, (3) sintaksis, (4) semantic, (5) prosodi, dan (6) pragmatik. Adanya gangguan pada salah satu atau lebih komponen-komponen tersebut dapat menyebabkan terjadinya kesulitan belajar bahasa.  Menurut Lovitt dalam Mulyono penyebab kesulitan belajar bahasa  adalah kekurangan kognitif, kekurangan dalam memori, kekrangan kemampuan melakukan evaluasi, kekurangan kemampuan memproduksi bahasa, dan kekurangan dalam pragmatic atau penggunaan fungsional bahasa.  Contoh kekurangan kognitif: mengklasifikasi kata, mencari dan menetapkan kata yang ada hubungannya dengan kata lain (hubungan semantik), menangkap makna secara penuh, dsb.  
Reference       
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (1999) Jakarta: Depdikbud dan RinekaCipta
 Semoga bermanfaat